'Aisyiyah

Gerakan Perempuan Muslim Berkemajuan

Berita
Tantangan dan Peluang Pengelolaan Pendidikan Formal di Tangan Perempuan
31 Agustus 2021 14:09 WIB | dibaca 205

FOTO/Ririn Dewi Wulandari

 

Penulis: Ririn Dewi Wulandari

Bandung- Ngaji Kebangsaan Jaringan KUPI (Koalisi Ulama Perempuan Indonesia) pada Kamis, 26 Agustus 2021 mengangkat tema yang menarik tentang “Tantangan dan Peluang Pengelolaan Pendidikan Formal di Tangan Perempuan”.  Kegiatan Ngaji yang diselenggarakan secara daring tersebut menghadirkan dua narasumber dari dua organisasi Islam terbesar di Indonesia yaitu; Tia Muthiah Umar, selaku Ketua BPH ‘Aisyiyah Boarding School Bandung sekaligus Pimpinan Wilayah Aisyiyah Jawa Barat dan Nyai Laila Jauharoh, sebagai Pendiri Sekolah Semai dan Pengurus LKK PWNU Jawa Tengah. 

Sebagai Keynote Speech pada kegiatan kerjasama KUPI dengan Kementrian Agama RI tersebut, Dr. H. Suwendi, Koordinator subdit Penelitian dan Pengelolaan HKI DIKTIS Kemenag RI. Ia menyampaikan bahwa perempuan disamping perannya di ranah domestik juga mempunyai kesempatan luas untuk berkiprah di ranah publik sebagai pendidik. Lebih lanjut beliau menyoroti angka ketuntasan belajar kaum perempuan.  Pada tingkat dasar dan menengah, kuantitas perempuan yang duduk di bangku sekolah angkanya melebihi kuantitas laki-laki. Tetapi ketika menginjak pembelajaran di Perguruan Tinggi, angka perempuan yang studi kalah dengan laki-laki.  Dan menariknya walaupun kuantitas kalah tetapi secara kualitas perempuan lebih unggul.  Ketimpangan masih muncul ketika dikaitkan dengan jabatan struktural di pemerintahan atau jabatan manajerial di swasta masih didominasi oleh laki-laki.  “Ini harus dicari tahu, dan belum ada penelitian yang terkait,” ujarnya lebih lanjut.

Pada kesempatan pertama, Tia Muthiah Umar menyampaikan spirit dasar ‘Aisyiyah dalam mengelola pendidikan. Dalam paparannya beliau menyampaikan perempuan harus menjawab tantangan untuk menghadirkan pendidikan yang unggul dan berkualitas dengan smart society, masyarakat yang tangguh, solid dan cerdas dalam menyelesaikan segala permasalahan yang hadir pada era 4.0 ini. Selanjutnya perempuan harus mampu mengenali diri dan hakekat hidup, menguasai soft skill manajerial, kecerdasan sosial, kecerdasan kepemimpinan serta mampu menginspirasi semua orang yang ada di sekitarnya untuk berani mengambil tanggung jawab. Jika perempuan mempunyai kapasitas diatas insyaaAllah akan mampu menghadirkan lingkungan pendidikan formal yang unggul dan berkualitas.

Selanjutnya pada kesempatan kedua, Nyai Laila Jauharoh berbagi cerita awal mula berdirinya sekolah Semai yang menumbuh kembangkan anak sebagai manusia.  Berangkat dari pemahaman bahwa kondisi anak yang dihadapi berbeda, ada yang memiliki hambatan fisik, hambatan psikologis & intelektual, hambatan sosialserta hambatan ekonomi, sehingga perlu sentuhan yang berbeda. Dalam skema pendidikan formal sekarang ini, menurut beliau potensi/fitrah yang dimiliki oleh anak secara sistemik dibunuh. “Kecerdasan jamaah/ existensial adalah modal,” ujarnya lebih lanjut.  Kurikulum disusun berdasarkan hasil need assessment/penggalian dari orang tua tentang kondisi anak yang kemudian dilanjutkan dengan riset yang hasilnya untuk digunakan untuk klasifikasi dan penyusunan kurikulum personal.  Harapannya anak-anak akan mampu eksis ada ataupun tiada dukungan dari siapapun. 

Ngaji kebangsaan yang sarat makna, untuk menumbuhkan semangat dan ketangguhan perempuan di organisasi atau lembaga manapun untuk ikut mengambil tanggung jawab menghadirkan lembaga pendidikan yang mampu menghadirkan generasi emas ke depan dan ikut berkontribusi dalam pencapaian tujuan Negara Indonesia yang terdapat di alenia ke 4 Pembukaan UUD 1945 yaitu ikut mencerdaskan kehidupan bangsa.

Shared Post: