'Aisyiyah

Gerakan Perempuan Muslim Berkemajuan

Syiar
Home » Syiar » Kajian Umum » PENALARAN MORAL SEORANG MUSLIM DALAM MASA PANDEMI
PENALARAN MORAL SEORANG MUSLIM DALAM MASA PANDEMI
23 Januari 2021 14:23 WIB | dibaca 294
oleh: hilda (lppa)

Oleh: Hilda Khairunnisa, S.Psi, M.Psi, 

 

Moralitas secara konseptual diungkapkan oleh Wiramihardja (2009) sebagai hal yang bersangkutan dengan apa yang seyogianya dilakukan dan apa yang seyogianya tidak dilakukan karena berkaitan dengan prinsip moralitas yang ditegakkan.

Peristiwa pandemi COVID-19 pada tahun 2020 yang terjadi di berbagai belahan dunia telah mengubah banyak hal dalam kehidupan sehari-hari. Perilaku manusia turut mengalami perubahan akibat pandemi ini. Apabila sebelumnya manusia dapat berinteraksi dengan manusia lain tanpa adanya jarak, namun pada situasi pandemi ini, interaksi antar menusia menjadi berjarak dan dibatasi secara fisik. Situasi sosial tersebut turut mengubah nilai-nilai moral yang telah dianut oleh manusia selama ini. Apabila dulu berjabat tangan bila bertemu dengan teman, kolega atau guru merupakan suatu yang lazim dan bahkan di beberapa kebudayaan merupakan hal yang dianggap utama, namun saat ini hal tersebut berubah menjadi hal yang harus dihindari. Apabila di masa lalu mengunjungi orang tua, kerabat, kakek dan nenek yang bertempat tinggal jauh dari kita merupakan hal yang dianggap baik, saat pandemi ini hal tersebut justru dihindari dan dilakukan dengan penuh pertimbangan serta kehati-hatian. Mengadakan dan menghadiri pesta di masa lalu merupakan hal yang baik, urgen dan menyenangkan, di saat masa pandemi ini hal itu dianggap sebagai hal yang kurang urgen, dan perlu kehati-hatian dalam pelaksanaannya. Apabila dahulu menjenguk orang sakit merupakan hal yang terpuji dan mulia, namun saat pandemi ini menjenguk orang sakit merupakan hal yang perlu dihindari, perlu kehati-hatian, dan bahkan dianggap berbahaya dalam melakukannya. Segala perubahan pola interaksi antar manusia tersebut terjadi demi untuk mencegah transmisi virus corona antar manusia.

Perubahan nilai-nilai moral di masyarakat yang terjadi di masa pandemi ini merupakan hal yang baru dan terjadi secara tiba-tiba. Reaksi masyarakat dalam menyikapi perubahan pola interaksi antar manusia serta pergeseran makna dari interaksi antar manusia selama masa pandemi ini adalah beragam. Karena bukan merupakan hal mudah untuk beralih atau berganti dari suatu prinsip moral yang sudah dianut selama bertahun-tahun kepada prinsip moral yang baru di dalam hal perubahan pola interaksi antar manusia.

Aturan pemerintah dalam mengatur interaksi antar manusia di masa pandemi ini, seperti Gerakan 5 M (Memakai masker, Mencuci tangan, Menjaga jarak, Menjauhi kerumunan, Mengurangi mobilitas) yang disosialisasikan guna mencegah transmisi COVID-19, pada akhirnya berhadapan dengan berbagai kebutuhan sosial individu seperti misalnya; silaturrahmi dengan kerabat dan teman, hajatan, menjenguk orang sakit, dan sebagainya. Sikap moral (moral behavior) yang ditunjukkan oleh masyarakat dalam menghadapi situasi tersebut beragam. Hal tersebut merupakan hal yang wajar mengingat setiap individu memiliki pengetahuan, perasaan, dan pengalaman moral yang berbeda-beda. Namun, tak jarang hal tersebut menimbulkan keraguan ataupun dilema dalam diri individu untuk menunjukkan sikap moral (moral behavior) yang tepat. Sehingga perubahan tatanan sosial saat ini telah berpengaruh pada penilaian orang-orang mengenai apa yang “benar” dan “salah” sebagaimana prinsip-prinsip moral yang memandu mereka dalam mengambil keputusan (Francis, B Katheryn & McNabb Carolyn, 2020).

Individu dalam menghadapi suatu situasi yang memerlukan moral judgement (penilaian moral) dan moral behavior (sikap moral) akan terlebih dahulu melakukan penalaran moral. Sebagaimana pendapat Rest, 1979 (Budiyono, 2016) yang mengungkapkan bahwa penalaran moral adalah konsep dasar yang dimiliki oleh individu untuk menganalisa masalah sosial-moral dan menilai terlebih dahulu tindakan apa yang akan di lakukannya. Pendapat ini serupa dengan pendapat Kohlberg yang mengungkapkan bahwa penalaran moral adalah kemampuan dasar seseorang untuk dapat memutuskan masalah sosial moral dalam situasi kompleks dengan melakukan penilaian terlebih dahulu terhadap nilai dan sosial mengenai tindakan apa yang akan dilakukannya. Selain itu, menurut Duska & Whelan, 1975 (Budiyono, 2016) penalaran moral inilah yang menjadi indikator dari tingkatan/tahap kematangan moral. Memperhatikan penalaran mengapa suatu tindakan salah, akan lebih memberi penjelasan dari pada memperhatikan perilaku seseorang atau bahkan mendengar pernyataan bahwa sesuatu itu salah.

Penalaran moral dipandang sebagai suatu struktur, bukan isi. Apabila penalaran moral dipandang sebagai isi, maka sesuatu dikatakan baik atau buruk akan sangat tergantung pada lingkungan sosial budaya tersebut. Sehingga sifatnya sangat relatif. Tetapi jika penalaran moral dilihat sebagai struktur, maka apa yang baik dan buruk terlihat dari prinsip filosofis moralitas sehingga penalaran moral bersifat universal. Kohlberg menekankan bahwa perkembangan moral didasarkan terutama pada penalaran moral dan berkembang secara bertahap (Widiarti, 2003).

Individu dewasa menurut Hurlock, 1996 (Putri, 2019) dimulai pada usia 18 tahun. Dari tinjauan usia, orang dewasa seharusnya telah mencapai tahapan perkembangan moral tertinggi menurut teori perkembangan moral Kohlberg. Pada teori Kohlberg disebutkan bahwa Level perkembangan moral tertinggi terjadi di usia 13 tahun ke atas (Nida, 2013). Level ini disebut sebagai Level Post Konvensional. Pada level tersebut terdapat dua tahapan yakni tahapan ke 5 (lima) dan ke 6 (enam) dari tahapan-tahapan perkembangan moral yang dikemukakan oleh Kohlberg. Tahapan ke-lima disebut sebagai Social Contract Legalistic Orientation. Bahwa yang dianggap bermoral adalah yang mampu merefleksikan hak-hak individu dan memenuhi ukuran-ukuran yang telah diuji secara kritis dan telah disepakati oleh masyarakat luas. Pada tahap ini, seseorang menyadari perbedaan individu dan pendapat. Sehingga tahap ini dianggap mampu terjadinya musyawarah mufakat. Benar dan salah dilihat sebagai hal yang berkaitan dengan nilai-nilai dan pendapat seseorang. Pada tahap ini hukum dan aturan juga dapat diubah jika hal tersebut dipandang baik bagi masyarakat. Sedangkan tahap ke-enam disebut sebagai Orientation of Universal Ethical Principles. Bahwa moral dipandang benar tidak harus dibatasi oleh hukum atau aturan dari kelompok sosial/masyarakat. Namun, hal tersebut lebih dibatasi oleh kesadaran manusia dengan dilandasi prinsip-prinsip etis. Prinsip-prinsip tersebut dianggap jauh lebih baik, lebih luas dan abstrak dan bisa mencakup prinsip-prinsip umum seperti keadilan, persamaan Hak Asasi Manusia, dan sebagainya (Budiyono, 2016).

Kohlberg sendiri berpendapat bahwa tidak ada satu-satunya jawaban yang benar terhadap suatu persoalan moral. Tetapi di dalamnya ada nilai yang penting sebagai dasar berpikir dan bertindak. Kriteria-kriteria yang dimaksud adalah kriteria yang mencakup kriteria diferensiasi dan integrasi “formal”. Di dalam tiap-tiap hal dan kewajiban menjadi lebih terdiferensiasi dan terintegrasi (Budiyono, 2016). Sebagai contoh, pada tahap ke-lima perkembangan moral, orang memiliki hak-hak alami dan seharusnya masyarakat menghormatinya. Sementara itu, pada tahapan ke-enam, hak-hak yang dimiliki seseorang dengan sendirinya menciptakan kewajiban dalam berhubungan dengan orang lain. Sehingga, hak-hak dengan orang lain dan kewajiban menjadi “korelatif secara lengkap” dan menjadi “terintgrasi lebih baik” daripada tahap-tahap selanjutnya. Sebagai contoh nyata dalam situasi pandemi saat ini adalah ketika seseorang yang sedang melakukan isolasi mandiri memerlukan makanan untuk bertahan hidup, ia memiliki hak untuk mencarinya. Sehingga masyarakat perlu menghormati haknya tersebut. Namun dalam pelaksanaan haknya tersebut, orang itu juga perlu melakukan kewajibannya dalam berhubungan dengan orang lain, yakni mencuci tangannya, mengenakan masker, menjaga jarak, keluar rumah hanya untuk memenuhi kebutuhannya saja, bukan untuk hal lain. Atau ketika dibalik posisinya adalah masyarakat memiliki hak untuk merasa aman dari transmisi seseorang yang terinfeksi COVID-19, oleh sebab itu apabila ada tetangga yang terkena COVID-19 masyarakat dengan sendirinya juga berkewajiban untuk menyediakan pemenuhan hidup bagi tetangga tersebut.

Terlepas dari teori perkembangan moral yang dikemukakan oleh Barat tersebut, Agama Islam sendiri memiliki prinsip-prinsip moral yang bersifat universal yang tercantum dalam Al-qur’an, yang relevan dalam berbagai situasi sosial. Widiarti (2003) menjelaskan bahwa universalitas moral berarti semua kultur mempunyai konsep dasar moralitas yang sama, misalnya; cinta, hormat, kemerdekaan, dan kekuasaan.

Contoh prinsip moral bernilai universal dari ayat yang tercantum dalam al-qur’an adalah Q.S. Ali Imran:134 “Yaitu orang-orang yang menafkahkan hartanya, baik di waktu lapang maupun sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”. Memberi bantuan dan berbuat baik menurut masyarakat di Timur maupun Barat, Dalam perspektif agama maupun sekuler, hal tersebut bernilai baik merupakan sikap moral yang bernilai baik secara universal. Dalam situasi sosial di masa pandemi ini, ketika perekonomian Bangsa sedang lesu, prinsip moral yang terkandung dalam surat Ali-Imran : 134 tersebut sangat sesuai digunakan sebagai landasan dalam menunjukkan sikap moral seorang muslim di dalam masyarakat.

Contoh lain dari prinsip moral bernilai universal yang tercantum dalam Al-qur’an adalah bertindak disertai dengan latarbelakang keilmuan dan bertanggungjawab atas perbuatan diri sendiri. Hal ini terdapat dalam Q.S. Al-Isra’: 36 “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya”. Ayat tersebut merupakan prinsip moral yang bernilai universal, terkait dengan objektivitas dan tanggung jawab. Saat masa pandemi ini, marak sekali hoaks mengenai COVID-19. Bahkan berita yang dimuat dalam www.kompas.com mengabarkan bahwa dalam masa 6 bulan pandemi, telah tersebar 1.016 hoaks yang tersebar dalam 1.912 platform. Dalam menghadapi situasi sosial tersebut, ayat Al-qur’an dalam surat Al-Isra’: 36 tersebut bisa dijadikan sebagai sumber pengetahuan (moral knowledge) dan prinsip moral guna melakukan penalaran moral dalam menghadapi situasi sosial seperti fenomena hoaks tentang COVID-19 yang masif.

Kedudukan Al-qur’an bagi umat Islam adalah sebagai ajaran yang berkepentingan untuk membina sikap moral yang benar bagi tidakan manusia. Tindakan yang benar, apakah itu tindakan politik, sosial, ataupun keagamaan dipandang Al-qur’an sebagai ibadah atau pengabdian kepada Tuhan. Karena itu, Al-qur’an menekankan moral dan faktor psikologis yang membentuk kerangka berpikir yang benar dalam melandasi tindakan (Asrifaen, 2018). Hal ini sekaligus memberi petunjuk pada kita bahwa ajaran di dalam Al-qur’an berfungsi sebagai struktur atau kerangka berpikir sebelum seorang muslim melakukan suatu tindakan atau menunjukkan suatu sikap.

Penalaran moral juga merupakan proses dimana seseorang memilih suatu tindakan terbaik secara moral (Rest & Narvaez dalam Widiarti 2003). Oleh sebab itu, Penalaran moral seorang muslim di masa pandemi, seyogianya berpijak pada moral knowledge (pengetahuan moral) yang bersumber dari Al-qur’an, sebagai panduan dalam Agama Islam. Prinsip-prinsip moral yang terkadung dalam ayat-ayat Al-qur’an telah banyak diteliti dan menunjukkan hasil penelitian yang mengarah pada terdapat nilai-nilai moral yang bernilai universal dan bisa dipelajari serta dijadikan sebagai pengetahuan moral (moral knowledge) dalam masa perkembangan seorang muslim. Selain itu, untuk mencapai tahap perkembangan moral tertinggi, Kohlberg dalam Barger (Widiarti, 2003) menjelaskan bahwa individu dapat meningkat melalui suatu tahapan ke tahapan perkembangan moral selanjutnya pada suatu waktu. Untuk itu, penting untuk orang-orang tersebut diperlihatkan dilema-dilema moral untuk diskusi yang akan membantu mereka melihat alasan-alasan moral pada tahap yang lebih tinggi dan mendorong perkembangan moralnya. Dari pernyataan tersebut, diskusi terkait dilema-dilema moral akan membantu seseorang, dalam hal ini seorang muslim untuk mengungkapkan alasan-alasan moral, sekaligus memperoleh pemahaman secara komprehensif dari rasionalitas moral yang mereka sampaikan dan mereka terima dari teman diskusinya. Hal tersebut akan mendorong pada perkembangan moral pada tahap selanjutnya.

Muara dari penggunaan prinsip-prinsip moral yang terdapat al-qur’an yang memiliki nilai-nilai moral universal serta dilakukannya diskusi-diskusi terkait dilema-dilema moral yang muncul saat masa pandemi ini, adalah terbentuknya penalaran moral yang dilandasi oleh moral knowledge (pengetahuan moral) yang benar dan bernilai universal, serta terjadinya pertumbuhan dalam tahapan moral seorang muslim ke arah tahapan perkembangan moral tertinggi. Sehingga ia mampu membuat penilaian moral (moral judgement) dan sikap moral (moral behavior) yang terbaik dalam menghadapi berbagai situasi sosial yang ada di masa pandemi ini.

 

DAFTAR PUSTAKA

Budiono AP. 2016. Teori Perkembangan Moral Menurut Kohlberg. http://apbudiyono.blogspot.com

Cambridge Dictionary. 2021. Meaning of Moral. http://dictionary.cambridge.org

Francis B Kathryn and McNabb Carolyn. 2020 Moral Decicion Making During COVID-19, Moral Judgement, Moralisation & Everyday Behavior. UK: University of Bradford & University of Reading.

Nida, Fatma Laili K. 2013. Intervensi Teori Perkembangan Moral Lawrence Kohlberg Dalam Dinamika Pendidikan Karakter. Jawa Tengah: STAIN Kudus.

Putri, Alifia Fernanda. 2019. Pentingnya Orang Dewasa Menyelesaikan Tugas Perkembangannya. SCHOULID: Indoensian Journal of School Councelling (2019), 3 (2), 35-40. ISBN (Elektronik) 2548-3226.

Widiarti, Pratiwi Wahyu. 2003. Orientasi Moral Keadilan dan Orientasi Moral Kepedulian: Suatu Kecenderungan Perbedaan Antara Pnelaran Moral Laki-laki dan Perempuan Berbeda. Yogyakarta: Cakrawala Pendidikan.

Wiramihardja, Sutardjo A. 2009. Pengantar Filsafat: Sistematika dan Sejarah Filsafat Logika dan Filsafat Ilmu (Epistemologi) Metafisika dan Filsafat Manusia Aksiologi. Bandung: PT Refika Aditama.

Shared Post:
Arsip
Kajian Umum Terbaru
Berita Terbaru